Pasar modal terpukul oleh pelemahan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (4/3). Analis pasar, Hendra Wardana, mengatakan bahwa tekanan global dan domestik bersamaan mempengaruhi pergerakan IHSG. Langkah Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif membuat pasar membaca sinyal meningkatnya risiko di masa depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan. Ketegangan geopolitik global dan kenaikan harga energi juga turut mempengaruhi pasar, dengan tekanan meningkat terutama dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro.
Faktor teknikal seperti aksi profit taking, pelemahan rupiah, dan lonjakan inflasi energi juga menjadi pertimbangan dalam pergerakan IHSG. Hendra menekankan bahwa harga minyak global dan stabilitas nilai tukar rupiah akan sangat memengaruhi arah IHSG ke depan. Selain itu, sentimen eksternal dan domestik membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dan berlangsung cepat, mempengaruhi volatilitas jangka pendek.
Dalam kondisi ketidakpastian, Hendra menyarankan investor untuk tetap berhati-hati namun tetap mengambil peluang dengan pendekatan bertahap dan fokus pada emiten berfundamental kuat. Kualitas portofolio dan pengaturan porsi investasi dianggap lebih penting daripada mengejar momentum jangka pendek. Meskipun outlook Fitch Ratings negatif, Indonesia masih mempertahankan peringkat investasi dengan fundamental ekonomi domestik yang tetap terjaga.
Data perdagangan sesi II menunjukkan IHSG melemah 5,26 persen, sejalan dengan pelemahan bursa saham di Asia. Frekuensi perdagangan saham juga turut menurun, dengan sejumlah saham naik, turun, dan tidak bergerak nilainya. IHSG diprediksi akan bergerak di zona penopang psikologis penting, tetapi masih berisiko mengalami konsolidasi dengan volatilitas tinggi. Pasar tetap memantau perkembangan konflik global yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG di masa depan.


