Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan di awal pekan ini. IHSG turun 1,55 persen pada penutupan perdagangan Senin. Meskipun sempat anjlok lebih dari 4,6 persen sebelum akhirnya rebound, ini cukup mengejutkan bagi investor ritel. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pelemahan IHSG mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi tekanan eksternal. Meskipun arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia menunjukkan tren signifikan, fundamental ekonomi nasional tetap solid.
Pasar saham di kawasan Asia Tenggara juga mengalami tekanan serupa, terkait kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik global. Terlebih lagi, saham-saham dengan fundamental kuat seperti PWON, LSIP, MTDL, dan KKGI juga ikut terkoreksi. Di tengah tekanan eksternal yang kuat, pelaku pasar di Indonesia mencermati struktur kepengurusan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Ekspektasi terhadap Danantara sebagai sovereign wealth fund cukup besar, dengan harapan mampu mendorong arus masuk modal asing ke sektor-sektor strategis.
CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa anjloknya IHSG saat peluncuran Danantara tidak langsung berkaitan dengan respons pasar terhadap lembaga tersebut. Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai bahwa pelemahan IHSG hari itu lebih dipengaruhi oleh pesimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi. Investor dengan horizon jangka panjang melihat momen ini sebagai peluang akumulasi, dengan tetap menjaga prinsip diversifikasi dan disiplin investasi.
Pemerintah juga diminta untuk meningkatkan pendapatan dari sektor ekspor dan transaksi jasa pariwisata serta mengoptimalkan pungutan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Dengan sinergi antara stabilitas makroekonomi dan kebijakan fiskal yang hati-hati, pasar modal Indonesia berpotensi untuk pulih dan tumbuh secara berkelanjutan di masa mendatang. Andil pemerintah dalam membentuk Danantara dianggap sebagai langkah strategis untuk menarik investasi jangka panjang yang produktif ke Indonesia.








