Digitalisasi dinilai dapat mengubah cara perajin batik daerah menjangkau pasar. Dengan memanfaatkan media sosial, e-commerce, dan live shopping, perajin berpeluang memangkas rantai distribusi yang panjang dan berhubungan lebih langsung dengan konsumen di kota-kota besar hingga pasar luar negeri.
Desainer sekaligus National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin mengatakan akses langsung tersebut dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi produk batik dan kesejahteraan pembatik. Ia menyampaikan pandangan itu kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
“Platform digital adalah game changer. Digitalisasi membantu memotong jalur distribusi yang panjang, sehingga perajin daerah bisa langsung terhubung dengan pembeli kota besar bahkan luar negeri,” kata Lenny.
Digitalisasi sebagai ruang penjualan dan edukasi
Menurut Lenny, manfaat platform digital tidak berhenti pada perluasan kanal penjualan. Media digital juga dapat digunakan untuk menjelaskan proses pembuatan batik serta keterampilan yang dibutuhkan perajin. Konten visual, misalnya, dapat memperlihatkan tahapan produksi secara manual yang selama ini tidak selalu diketahui konsumen.
“Platform digital menjadi sarana edukasi visual yang sangat efektif untuk menceritakan proses pembuatan batik kepada audiens global,” ujarnya.
Edukasi tersebut penting karena batik tulis memiliki karakter produksi yang berbeda dari produk fashion massal. Pengerjaannya membutuhkan waktu dan keterampilan tangan melalui sejumlah tahapan. Karena itu, batik tulis tidak tepat apabila hanya dibandingkan dari sisi harga dengan produk fast fashion.
Lenny menilai strategi pengembangan batik perlu menonjolkan nilai yang melekat pada produk, termasuk eksklusivitas dan proses pembuatannya. Penjelasan itu juga dibutuhkan agar konsumen dapat membedakan batik sebagai karya budaya dari tekstil bermotif batik yang dibuat melalui proses printing.
“Ketika konsumen paham value di balik sehelai kain, mereka tidak akan keberatan membayar harga yang lebih tinggi,” kata Lenny.
Menjaga keberlanjutan profesi pembatik
Perluasan pasar melalui kanal digital, lanjut Lenny, dapat mendukung keberlanjutan industri batik dengan memperbesar basis konsumen dan membuka peluang pasar baru bagi perajin. Namun, keberlanjutan tersebut juga perlu disertai peningkatan sumber daya manusia yang bersedia menekuni pembuatan batik tulis dengan proses yang panjang.
Regenerasi pembatik menjadi salah satu perhatian penting. Lenny menilai minat generasi muda untuk meneruskan profesi tersebut perlu ditingkatkan agar pasar industri batik tetap terjaga sekaligus kesejahteraan perajin dapat diperkuat.
“Kita perlu menaikkan taraf kesejahteraan ekonomi perajin agar profesi ini kembali dilirik oleh anak muda sebagai profesi yang membanggakan dan keren,” kata Lenny.


