Generasi Muda Diajak Bijak dalam Mengelola Keuangan di Era Digital
Di tengah perkembangan digital yang pesat, Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, mengajak generasi muda untuk bijak dalam mengelola keuangan. Menurutnya, rendahnya literasi keuangan berdampak langsung pada perilaku keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Farid mengungkapkan bahwa berbagai fenomena sosial seperti fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), dan fear of other people’s opinion (FOPO) seringkali memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan finansial yang kurang rasional. Hal ini dapat membuat seseorang terjebak pada pembiayaan konsumtif untuk memenuhi keinginan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Tingginya Penggunaan Layanan Pinjaman Online oleh Generasi Muda
Farid juga menyoroti tingginya penggunaan layanan pinjaman online oleh kelompok usia muda, yang mencapai hingga 60 persen. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan literasi dan kesadaran finansial sejak dini, agar masyarakat dapat menghindari risiko keuangan yang tidak diinginkan.
Menurut Farid, tantangan utama bukanlah seberapa besar uang yang dimiliki seseorang, melainkan kemampuannya dalam mengelola keinginan. Promosi diskon, fasilitas paylater, dan berbagai bentuk cicilan saat ini menuntut masyarakat untuk memiliki kontrol diri dan kemampuan menentukan prioritas dalam pengeluaran mereka.
Pernyataan Farid ini disampaikan dalam sebuah kuliah umum dengan tema “Kesadaran Finansial: Fondasi Integritas dan Kesadaran Kemandirian Generasi Muda” di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Dengan demikian, penting bagi generasi muda untuk memahami pentingnya literasi dan kesadaran finansial agar dapat mengelola keuangan mereka dengan bijak di tengah arus perkembangan digital yang terus berlangsung.


