Kolaborasi antara Bank Indonesia (BI) dengan otoritas lain menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ekonom Associate Faculty LPPI, Ryan Kiryanto, menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Menurut Ryan, BI tidak bisa bekerja sendiri dalam upaya stabilisasi rupiah, sehingga perlu kerjasama dengan otoritas lain.
Ryan menyoroti perlunya strategi kolaboratif lintas sektor dan penguatan struktural untuk mengatasi tekanan terhadap rupiah. Salah satu strategi yang diusulkan adalah konversi pinjaman valuta asing ke dalam rupiah oleh perbankan. Selain itu, peningkatan penggunaan bahan baku lokal juga menjadi kunci untuk mengurangi permintaan valas dan mendukung nilai tukar rupiah.
Peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga perlu diperkuat melalui harmonisasi kebijakan antarotoritas. Ryan menekankan pentingnya kebijakan yang bersifat ramah pasar dan investor untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Meskipun nilai tukar rupiah terakhir ditutup pada level Rp17.229 per dolar AS, Ryan merasa bahwa asumsi kurs rupiah dalam APBN 2026 dapat menjadi acuan titik keseimbangan yang lebih menguntungkan bagi eksportir dan importir.
Dengan ketegangan geopolitik global yang meningkat, risiko terhadap ekonomi Indonesia juga semakin berkembang. Hal ini dapat berdampak pada perdagangan, keuangan, dan investasi. Oleh karena itu, ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas. Sebagai tambahan, Ryan menyoroti pentingnya strategi kolaboratif dan upaya bersama antar lembaga dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.


