Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Wihadi Wiyanto, menegaskan bahwa fondasi dan kinerja APBN masih kuat untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan kenaikan harga energi global. Hal ini disampaikan sebagai tanggapan terhadap usulan dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, yang mengusulkan agar pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk menekan defisit APBN.
Menurut Wihadi, APBN tidak hanya berfungsi sebagai alat stabilisasi untuk menyerap gejolak eksternal, tetapi juga untuk melindungi masyarakat dari dampak langsungnya. Dia menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik, dengan inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang positif, dan indikator PMI manufaktur yang menggembirakan.
Secara fiskal, kondisi APBN dinilai masih dalam koridor yang terjaga, dengan defisit yang terkendali dan rasio utang yang tetap aman. Pendapatan negara yang terus tumbuh memberikan fleksibilitas bagi APBN untuk melakukan penyesuaian anggaran prioritas melalui refocusing agar defisit tetap terkendali.
Wihadi juga menyebutkan bahwa Banggar DPR RI telah menerima penjelasan dari pemerintah terkait langkah refocusing anggaran untuk menambah anggaran subsidi energi. Keputusan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi disebutnya sebagai langkah strategis dalam menghadapi krisis global.
Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil pemerintah bukan hanya terkait dengan kenaikan harga BBM, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan terhadap daya beli dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dari dampak krisis global melalui APBN. Semua kebijakan yang diambil tentunya bertujuan untuk memastikan stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa berlangsung secara berkelanjutan.


