Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan pada Jumat sore, mengikuti arah penguatan di Wall Street sehari sebelumnya. Kenaikan ini terjadi dalam konteks negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama enam minggu. IHSG berhasil ditutup naik 150,91 poin atau 2,07 persen ke posisi 7.458,50. Sementara indeks LQ45, kelompok 45 saham unggulan, juga mengalami kenaikan sebesar 1,71 persen. Menurut Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico, penguatan IHSG juga dipengaruhi oleh sentimen positif dari Wall Street, namun pelaku pasar tetap berhati-hati mengingat serangan Israel ke Lebanon dan gangguan di Selat Hormuz yang berlangsung.
Dari sisi makroekonomi, para pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi AS bulan Maret 2026, untuk melihat dampak dari konflik di Timur Tengah terhadap inflasi global. Sementara itu, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed Maret 2026 menunjukkan kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap tekanan inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Di dalam negeri, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia mengalami penurunan menjadi level terendah sejak Oktober 2025, yakni 122,9 pada Maret 2026.
Selama sesi perdagangan saham, IHSG mampu bertahan dalam zona positif, dengan sektor industri mengalami kenaikan signifikan sebesar 4,09 persen. Beberapa saham yang mencatatkan kenaikan antara lain CITY, WBSA, DIVA, OPMS, dan PADI, sementara saham yang mengalami penurunan antara lain KUAS, HDFA, MSKY, IPAC, dan CTTH. Frekuensi perdagangan saham juga tercatat tinggi, dengan sejumlah saham yang diperdagangkan mencapai 42,94 miliar lembar saham senilai Rp18,12 triliun. Di tingkat regional Asia, indeks Nikkei, Shanghai, Hang Seng, dan Strait Times juga mengalami kenaikan pada sore hari tersebut.
Dengan perkembangan positif ini, IHSG menunjukkan kinerja yang menggembirakan di tengah ketidakpastian global, namun pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi perkembangan lebih lanjut di Timur Tengah dan isu geopolitik lainnya. Copyright © ANTARA 2026.


