Nilai tukar rupiah mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS di pasar global, disebabkan oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven saat ketidakpastian geopolitik masih menghantui. Muhammad Amru Syifa dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menyatakan bahwa faktor ini ikut memengaruhi pelemahan rupiah. Di samping itu, kondisi stabil inflasi AS yang pada level 2,4 persen tahunan juga berdampak signifikan, memperkuat harapan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini cenderung memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan harga energi dan memperbesar volatilitas di pasar keuangan global. Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan inflasi terkendali, stabilitas makroekonomi terjaga, dan surplus neraca perdagangan yang masih tercatat. Upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat koordinasi kebijakan serta likuiditas dolar di pasar domestik diharapkan mampu meredam tekanan terhadap rupiah.
Pasar valas Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga ikut terpengaruh, melemah ke level Rp16.990 per dolar AS. Stabilitas pasar valas dan ketersediaan likuiditas dolar dianggap penting untuk menjaga kelancaran transaksi, mengendalikan volatilitas nilai tukar, dan mempertahankan kepercayaan investor. Disarankan untuk terus memantau dinamika pasar global serta langkah-langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi demi menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.


