Ketidakpastian yang terus meningkat terkait konflik di Timur Tengah (Asia Barat) memberikan tekanan tambahan pada sentimen risiko di pasar keuangan, yang berdampak langsung pada pergerakan nilai tukar rupiah. Pagi ini, pada pembukaan perdagangan di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah sebesar 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.970 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya sebesar Rp16.958 per dolar AS.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, menyatakan bahwa ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah turut mempengaruhi sentimen risiko di pasar. Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan tersebut semakin meningkat setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa skala serangan terhadap Iran telah naik ke tingkat yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Hal ini membuat Pentagon mengirimkan unit ekspedisi Marinir ke wilayah tersebut.
Harga minyak juga mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya ketegangan, yang pada akhirnya mendorong penguatan dolar AS. Meskipun demikian, penguatan dolar AS agak terhambat setelah data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen qoq dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,4 persen qoq.
Di sisi lain, indikator inflasi utama The Fed, PCE Price Index, menunjukkan sedikit penurunan menjadi 2,8 persen year on year (yoy) pada Januari 2026 dari 2,9 persen yoy pada bulan sebelumnya, sementara Core PCE Price Index mengalami kenaikan tipis menjadi 3,1 persen yoy dari 3,0 persen yoy.
Diperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.900–Rp17.050 per dolar AS, mengingat ketegangan geopolitik yang belum mereda dan sikap investor yang cenderung wait-and-see menjelang periode libur panjang di Indonesia yang dimulai pada Rabu (18/3) pekan ini. Josua memberikan pandangannya terkait pergerakan rupiah dan faktor-faktor eksternal yang memengaruhinya.
Dalam perkembangan lain, Purbaya mengamati bahwa rupiah tetap kuat di tengah gejolak global, menunjukkan kepercayaan investor yang stabil. Bank Indonesia, melalui BI Bali, juga tengah mengambil langkah untuk melindungi konsumen dengan menyediakan situs web untuk memerangi praktik penukaran uang ilegal.
Sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh rencana International Energy Agency (IEA) untuk merilis data cadangan minyak, yang dapat berdampak pada harga minyak global. Semua faktor ini berkontribusi pada volatilitas nilai tukar rupiah dan menuntut kewaspadaan bagi pelaku pasar.


