Komoditas energi menjadi sorotan utama dalam pasar modal Indonesia, terutama terkait dengan kenaikan harga minyak. Menurut Pengamat pasar modal Elandry Pratama, volatilitas pasar saham Indonesia berpotensi meningkat dalam jangka pendek akibat tekanan fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah. Investor global pun menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko dalam situasi saat ini.
Meski demikian, dampak dari kondisi ini tidak merata. Saham-saham berbasis komoditas energi berpotensi mengalami sentimen positif dari kenaikan harga minyak, namun sektor yang rentan terhadap impor dan daya beli mungkin akan menghadapi tekanan. Investor asing diprediksi akan lebih berhati-hati, terutama jika tekanan terhadap fiskal dan nilai tukar rupiah semakin tinggi, yang dapat mempengaruhi portofolio investasi di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, investor domestik cenderung melihat kondisi secara lebih fundamental, terutama dengan menjaga stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal. Meskipun tekanan terhadap fiskal Indonesia meningkat akibat lonjakan harga minyak global dan pelemahan nilai tukar rupiah, Elandry meyakini bahwa ruang fiskal Indonesia masih cukup terjaga dengan opsi penyesuaian yang dimiliki oleh pemerintah.
Pemerintah diharapkan dapat menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global, terutama melalui pengelolaan defisit dan subsidi energi yang lebih adaptif. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan, ada prospek positif yang bisa didorong oleh sentimen dari sektor komoditas energi. Dengan demikian, langkah-langkah tepat dalam mengelola fiskal dan kebijakan pemerintah diharapkan dapat mempertahankan stabilitas ekonomi Indonesia.


