Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat, mengalami pelemahan sebesar 28 poin atau sekitar 0,17 persen menjadi Rp16.787 per dolar AS dibandingkan dengan sebelumnya Rp16.759 per dolar AS. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengaitkan pelemahan kurs rupiah ini dengan ketegangan geopolitik antara Iran dan AS yang sedang berlangsung. Ketegangan ini dipicu oleh penempatan lebih banyak kapal AS di Timur Tengah dan ancaman tindakan militer jika kesepakatan nuklir dengan Iran tidak tercapai.
Pembicaraan antara AS dan Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir tanpa kesepakatan jelas, namun kedua pihak menyatakan akan melanjutkan negosiasi. Ketidakpastian ekonomi AS setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump juga memberikan sentimen negatif terhadap rupiah. Trump mengumumkan tarif baru dan menambahkan bea masuk baru sebagai respons terhadap keputusan tersebut.
Pasar juga sedang menilai jalur kebijakan moneter Fed karena masih ada kekhawatiran tentang inflasi yang tinggi. Meskipun pasar memprediksi bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Maret dan April, kemungkinan penurunan suku bunga pada Juni menjadi kurang pasti. AS juga mengumumkan pengenaan bea masuk atas sel dan panel surya yang diimpor, termasuk dari Indonesia dengan tarif subsidi umum sebesar 104,38 persen.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.779 per dolar AS. Dari segi sentimen domestik, berita ini menjadi perhatian tersendiri bagi pasar keuangan. Selain itu, beberapa berita terkait ekonomi juga turut berdampak pada pergerakan rupiah, seperti penguatan IHSG, kenaikan harga emas Antam, serta harga bawang merah dan cabai rawit. Perkembangan ini mencerminkan kompleksitas situasi ekonomi global yang berdampak pada geopolitik dan stabilitas mata uang lokal.


