Pada Kamis sore, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah, mengalami penurunan sebesar 86,97 poin atau 1,05 persen menjadi 8.235,26. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, sentimen negatif ini dipicu oleh berita bahwa AS akan memberlakukan tarif atas sel dan panel surya yang diimpor dari India, Indonesia, dan Laos. Selain itu, Departemen Perdagangan AS juga berencana membuka penyelidikan terhadap praktik perdagangan Indonesia untuk memeriksa kapasitas industri dan subsidi perikanan. Dampak dari berita ini menyebabkan IHSG bergerak ke teritori negatif sejak perdagangan hari Kamis dimulai hingga penutupan sesi perdagangan saham.
Di sesi perdagangan saham kedua, IHSG masih bertahan di zona merah dan ditutup melemah. Seluruh sektor dalam Indeks Sektoral IDX-IC mengalami penurunan, dengan sektor transportasi & logistik sebagai yang paling turun sebesar 2,60 persen. Beberapa saham yang mengalami penguatan adalah MSKY, JAYA, DIVA, IFSH, dan STAR, sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah INDS, SKBM, ARKO, BUVA, dan KONI. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.102.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 54,17 miliar lembar saham senilai Rp28,08 triliun. Saat yang sama, bursa saham regional Asia juga mengalami pergerakan yang beragam, dengan indeks Nikkei menguat, indeks Shanghai melemah, indeks Hang Seng melemah, indeks Kuala Lumpur melemah, dan indeks Strait Times juga mengalami penurunan.
Dalam situasi yang dinamis ini, penting bagi para pelaku pasar untuk terus memperhatikan perkembangan pasar dan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh negara-negara lain, termasuk AS. Kehandalan dalam menganalisis sentimen pasar dan melakukan strategi investasi yang tepat adalah kunci untuk tetap bersaing di pasar saham yang terus berubah.


