Industri perbankan masih dianggap konservatif oleh Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), sehingga proyeksi pertumbuhan kredit pada 2026 diperkirakan tetap berada dalam angka satu digit. Hal ini disebabkan oleh rendahnya permintaan kredit dari sektor riil yang belum kuat, serta ketidakpastian global yang masih menghantui. Menurut Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, bank-bank masih cenderung bersikap hati-hati dalam menyediakan kredit, dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 8-9 persen. Namun demikian, optimisme baru dapat muncul jika belanja dan aktivitas investasi BUMN meningkat, karena hal ini seringkali menjadi kunci utama dalam meningkatkan permintaan kredit. Di sisi lain, minat terhadap kredit dari sektor swasta masih ada meskipun belum merata, terutama dari pelaku usaha yang bergerak dalam sektor berprospek jangka panjang. Namun, peran usaha kecil dan menengah (UKM) dalam pertumbuhan kredit masih terbatas, karena segmentasi ini masih menghadapi tantangan dalam hal permintaan dan inovasi. Diharapkan bahwa mekanisme pengambilan keputusan investasi BUMN dapat disederhanakan untuk mempercepat pergerakan sektor riil, sehingga pertumbuhan kredit pada tahun 2026 bisa lebih stabil.


