Perang tarif saat ini memberikan dampak negatif pada pasar keuangan, yang membuat harga emas meningkat dengan cepat. Menurut Ariston Tjendra, pengamat pasar uang dan Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, proyeksi harga emas ke depan akan terus meningkat bergantung pada sentimen negatif di pasar keuangan. Sentimen perang dagang yang terus berlanjut dengan Amerika Serikat telah mempengaruhi kebijakan tarif impor, termasuk Indonesia. Presiden Trump baru-baru ini menunda kebijakan tarif impor hingga 90 hari untuk beberapa mitra dagang, kecuali China. Ini berdampak pada kenaikan harga emas karena pelaku pasar beralih ke investasi emas ketika terjadi ketidakpastian. Selain itu, konflik antarnegara, pelambatan ekonomi, dan faktor lain juga dapat mendorong kenaikan harga emas. Masyarakat mulai berinvestasi dalam emas, terlihat dari peningkatan transaksi emas di beberapa daerah pasca-Lebaran. Harga emas Antam juga mengalami lonjakan yang signifikan, mencapai Rp1.846.000 per gram. Harga emas yang tinggi dan tren investasi emas baru ini menarik minat masyarakat untuk berinvestasi dalam aset ini. Dengan harga emas yang terus meningkat, prospek investasi emas di masa depan terlihat menjanjikan.








