Pada perdagangan Jumat, IHSG diprediksi akan bergerak konsolidasi dengan rentang perdagangan antara level 6.318 hingga 6.440. Menurut analisis Tim Riset Mirae Asset Sekuritas, penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir tidak didukung oleh faktor fundamental yang kuat, namun lebih dipengaruhi oleh kebijakan relaksasi buyback tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Net outflows asing masih terus berlanjut, dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp499,3 miliar pada hari sebelumnya. Dari sisi global, sentimen dipengaruhi oleh tensi perdagangan AS dengan mitra dagangnya dan ketidakpastian seputar kebijakan suku bunga The Fed. Di dalam negeri, sentimen yang diperkirakan akan memberatkan adalah faktor ekonomi dan politik. Pasar khawatir tentang kebijakan fiskal pemerintah dan isu politik seperti mundurnya Sri Mulyani serta rencana perubahan legislatif militer yang berpotensi memperluas peran militer dalam lembaga sipil. Tim Riset Mirae memperkirakan bahwa pasar saham Indonesia akan tetap mengalami fluktuasi tinggi dalam waktu dekat. Pada hari yang sama, bursa saham AS Wall Street ditutup sedikit melemah setelah bergerak fluktuatif antara zona hijau dan merah. Para investor tengah menganalisis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat dan pernyataan kebijakan Federal Reserve terkait kekhawatiran atas tarif. Bursa saham regional Asia juga mengalami pergerakan berbeda, dengan indeks Nikkei yang menguat dan indeks Shanghai yang melemah. Perkembangan tersebut menjadi sorotan bagi pelaku pasar saham di Indonesia.


