Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR). Dalam Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Maret 2025, diputuskan bahwa proyeksi pemangkasan FFR tetap satu kali pada tahun yang sama. Bank Indonesia melihat bahwa ketidakpastian global masih tinggi karena pengenaan tarif impor yang semakin meluas di AS. Hal ini menyebabkan BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen tahun ini.
Kebijakan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump serta tax cut di dalam negeri sebelumnya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi AS, namun pasar mengkhawatirkan dampak negatifnya. Bank Indonesia juga mencermati defisit fiskal AS yang kemungkinan hanya sebesar 6,4 persen dari perkiraan semula. Dalam perkembangan pasar keuangan global, terjadi pergeseran aliran modal menuju komoditas emas dan obligasi di negara maju dan berkembang.
Perry, dalam konferensi pers, menyatakan bahwa instrumen keuangan Indonesia seperti Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia masih menarik bagi investor asing berkat pertumbuhan ekonomi yang stabil. BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga deposit facility 5,00 persen, dan suku bunga lending facility 6,50 persen dalam RDG pada Maret 2025. Bank sentral masih optimis bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh antara 4,7 hingga 5,2 persen tahun ini.


