RAPBN 2027: Navigasi Pertumbuhan, Disiplin Fiskal, dan Kesejahteraan
Jakarta (ANTARA) – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) seperti peta navigasi bagi pemerintah sebagai nakhoda harus mempertimbangkan tiga keseimbangan; kecepatan kapal (laju pertumbuhan ekonomi), ketahanan lambung kapal (kehati-hatian fiskal), dan keterjaminan hidup penumpang (kesejahteraan sosial). Menakhodai kapal ini bukan sekadar hitung-hitungan angka di atas kertas, tetapi seni tersendiri.
Langkah Presiden Prabowo
Pemerintah telah merilis RAPBN Tahun 2027 dan Nota Keuangan, menegaskan pentingnya mendorong pertumbuhan ekonomi sambil menjaga fiskal dan membantu rakyat. Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa akselerasi pertumbuhan dan disiplin fiskal harus berjalan seiring untuk menjaga kesejahteraan rakyat.
Di bawah fondasi yang kuat, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, dan yield SBN 10 tahun 6,9 persen. Meskipun target pertumbuhan dianggap optimistis, kondisi global dan domestik yang belum stabil menantang.
Asumsi dan Target Pendapatan
Pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar 75 dolar AS per barel. Sementara itu, target pendapatan negara mencapai Rp3.426,0 triliun atau sekitar 12,25 persen terhadap PDB. Meskipun nominal pendapatan meningkat, rasio pendapatan terhadap PDB relatif tetap, menunjukkan perlunya upaya optimalisasi lebih lanjut.
Dalam langkah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, disiplin fiskal, dan kesejahteraan sosial, pemerintah harus memastikan setiap rupiah yang dikumpulkan kembali menjadi harapan nyata bagi rakyat. Tantangannya besar, namun dengan perencanaan dan eksekusi yang tepat, Indonesia bisa mengarungi badai global menuju tujuan yang lebih baik.


