Sunday, August 16, 2026
HomeFinansialProyeksi Ekonomi Indonesia Tetap di 5,2% Hingga 2026

Proyeksi Ekonomi Indonesia Tetap di 5,2% Hingga 2026




Proyeksi <a href="https://portalnu.com/2026/08/16/rapbn-2027-mendorong-pertumbuhan-ekonomi-dan-kesejahteraan-melalui-disiplin-fiskal/">Pertumbuhan Ekonomi</a> Indonesia 2026

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2026

Asian Development Bank (ADB) telah mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun 2026. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan proyeksi pertumbuhan tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam, meskipun di tengah perlambatan prospek ekonomi kawasan.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Berdasarkan laporan terbaru Asian Development Outlook (ADO) dari ADB, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 tetap berada pada level 5,2 persen. Angka ini tidak mengalami perubahan dari proyeksi sebelumnya pada April 2026. Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2 persen, namun tetap lebih tinggi dari Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Perlambatan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi di Asia Tenggara

ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Tenggara menjadi 4,6 persen pada tahun 2026 dari sebelumnya 4,7 persen. Di antara negara-negara utama ASEAN, Filipina merupakan satu-satunya negara yang mengalami revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Secara keseluruhan, ADB juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik menjadi 4,9 persen pada tahun 2026, dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen yang telah dipublikasikan pada bulan April.

Implikasi Konflik di Timur Tengah

Lembaga tersebut mencatat bahwa gangguan berkepanjangan di pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah memberikan dampak yang lebih besar dari perkiraan terhadap perekonomian kawasan. Konflik ini tidak hanya mempengaruhi harga energi, tetapi juga harga pupuk, komoditas lain, dan rantai pasok global.

“Jika berjalan baik, pelaksanaan kesepakatan kerangka kerja akan membantu normalisasi pasar energi global, tetapi seberapa cepat penyesuaian tersebut terjadi masih sangat tidak pasti dengan risiko pemburukan yang signifikan,” kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park.

© ANTARA 2026


Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler