Instruksi Khusus dari Anggota Dewan Energi Nasional untuk PT PLN
Jakarta – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha memerintahkan PT PLN (Persero) untuk melakukan pengecekan terhadap daya mampu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) guna mendeteksi potensi gangguan.
Saran Konkrit dalam Mengelola Pembangkit Listrik
Dalam acara yang bertajuk “Menjaga Pasokan Batu Bara untuk Kebutuhan Nasional” di Jakarta, Satya Widya Yudha mengingatkan bahwa tidak hanya faktor usia dari pembangkit listrik, tetapi aspek teknis juga harus menjadi prioritas dalam evaluasi kinerja PLTU.
Menurut informasi dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), daya mampu merupakan kapasitas sebenarnya dari suatu pembangkit dalam menghasilkan listrik.
Satya Widya Yudha juga menyoroti PLTU Jawa 1-7 yang telah beroperasi selama sekitar 40 tahun. Usia pembangkit tersebut menyebabkan terjadinya penurunan daya mampu yang tidak sejalan dengan kapasitas terpasangnya.
Langkah Konkrit untuk Meningkatkan Efisiensi PLTU
Selain usia, terdapat beberapa faktor lain yang harus dievaluasi dalam menentukan daya mampu PLTU, seperti proses maintenance serta spesifikasi batu bara yang digunakan.
Satya Widya Yudha menggarisbawahi pentingnya melakukan audit teknologi secara menyeluruh untuk setiap PLTU guna memastikan performa dan karakteristiknya. Pendekatan yang holistik diperlukan untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh PLN terkait dengan penurunan daya mampu PLTU.
Solusi Jangka Panjang dari PLN
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menegaskan komitmen perusahaan untuk melakukan modifikasi (retrofit) pada PLTU guna menggunakan batu bara dengan kalori rendah. Hal ini bertujuan untuk menghindari pemadaman bergilir yang dapat mengganggu pasokan listrik nasional.
Modifikasi yang dilakukan pada PLTU Suralaya 6 dan 7 menjadi contoh sukses dalam penggunaan batu bara dengan kalori rendah, yaitu sekitar 4.100-4.300 kcal per kg. Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi kesulitan pasokan batu bara medium rank atau berkalori sedang, yang menjadi penyebab utama pemadaman bergilir yang terjadi sebelumnya.


