Rupiah Menguat Berkat Laporan Kinerja APBN yang Positif
Pelaku pasar di Indonesia menunjukkan respons positif terhadap laporan kinerja Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), meskipun masih menghadapi defisit. Penguatan ini tercermin dari nilai tukar (kurs) rupiah yang menguat 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp18.036 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS. Hal ini disampaikan oleh Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, yang mengungkapkan bahwa kenaikan pajak yang signifikan menunjukkan penurunan ketergantungan pada utang.
Penerimaan Pajak Meningkat
Pada data per 31 Mei 2026, penerimaan pajak menunjukkan kinerja yang positif dengan nilai Rp834,4 triliun, tumbuh 22,1 persen (year-on-year) dari tahun sebelumnya. Penerimaan pajak penghasilan baik dari badan maupun orang pribadi mengalami pertumbuhan signifikan, menandakan adanya peningkatan penghasilan.
Pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) juga mengalami pertumbuhan sebesar 41,3 persen dengan nilai Rp315,7 triliun. Selain itu, Bank Indonesia juga mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan guna meredam pelemahan rupiah, yang membuat mata uang Garuda semakin diminati.
Kurs Rupiah dan Ekspektasi Pasar
Pada penutupan perdagangan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tetap stabil di Rp18.039 per dolar AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh BI memperluas spread bunga dengan The Fed rate, menjadikan rupiah semakin menarik bagi pelaku pasar.
Reaksi positif pasar terhadap laporan kinerja APBN menjadi indikasi bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan negara mulai membuahkan hasil. Diharapkan, tren positif ini dapat berlanjut dan mendukung stabilitas ekonomi Indonesia ke depannya.


