Kinerja Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Positif Menurut Menteri Keuangan
Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp123,8 triliun. Angka ini setara dengan 36,8 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Meskipun demikian, Menkeu Purbaya melihat adanya sinyal pemulihan pada penerimaan kepabeanan dan cukai dengan pertumbuhan kumulatif sebesar 0,7 persen secara tahunan. Ia menekankan bahwa sektor kepabeanan dan cukai memberikan kontribusi positif, terutama dengan pertumbuhan yang terus meningkat dari bulan ke bulan.
Pertumbuhan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
Pada periode yang sama, penerimaan cukai mencapai Rp90,4 triliun dengan kenaikan tipis 0,2 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi hasil tembakau pada triwulan I 2026.
Sementara itu, penerimaan bea masuk mencatatkan angka sebesar Rp21,5 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh lonjakan impor bahan baku dan bahan penolong sebesar 10,67 persen.
Perbaikan Kinerja Bea Keluar
Namun, penerimaan bea keluar mengalami kontraksi sebesar 8,9 persen menjadi Rp11,9 triliun. Meskipun demikian, Menkeu Purbaya menyoroti adanya perbaikan dalam kinerja bea keluar seiring dengan penguatan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari Maret hingga Mei 2026.
Peningkatan impor bahan baku dan bahan penolong juga dijadikan indikator bahwa aktivitas manufaktur dalam negeri sedang berkembang. Hal ini sejalan dengan data PDB yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif.
Menkeu Purbaya optimis bahwa ke depan, pertumbuhan penerimaan kepabeanan dan cukai akan semakin positif. Dengan adanya sinyal pemulihan yang terlihat, diharapkan sektor ini akan terus memberikan kontribusi yang baik bagi perekonomian nasional.


