Pertamina EP Catat Produksi Migas Sebesar 205 Ribu BOEPD
Pada tahun 2025, total produksi minyak dan gas bumi (migas) oleh PT Pertamina EP mencapai 205 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD). Capaian tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghadirkan inovasi operasional yang terukur serta memperkuat ketahanan portofolio hulu.
RUPST Tahun Buku 2025
Direktur Utama PT Pertamina EP, Rachmat Hidajat, menyampaikan capaian tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan. Pada rapat tersebut, dipaparkan kinerja perusahaan sepanjang tahun buku 2025 termasuk bidang operasi, produksi, eksplorasi, keselamatan, finansial, serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pertamina EP berhasil mengelola fasilitas hulu migas di 5 aset di 22 lapangan operasi di darat dan lepas pantai yang tersebar di 13 provinsi di Indonesia. Produksi minyak mencapai 68.338 barel per hari, gas 792 juta standar kaki kubik, dan total produksi migas sebesar 205 ribu barel setara minyak per hari.
Selain itu, perusahaan juga melakukan berbagai kegiatan pengeboran sumur eksplorasi dan pengembangan serta penguatan kegiatan eksplorasi melalui akuisisi seismik. Upaya ini menghasilkan penemuan sumber daya yang signifikan dan tambahan cadangan terbukti.
Inovasi Operasional
Melalui inovasi berkelanjutan, Pertamina EP memperkuat ketahanan energi nasional dan menata masa depan operasi migas yang lebih berkelanjutan dan resilient. Salah satu pencapaian terbaru adalah liquid onstream perdana Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) Stage 1 di Lapangan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.
Hal ini menandai dimulainya produksi cairan dengan kapasitas terpasang yang signifikan sebagai bagian dari program Optimasi Pengembangan Lapangan Akasia Bagus–Gantar. Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengembangkan cadangan serta meningkatkan kapasitas produksi melalui inovasi operasional.
Dengan komitmen terhadap inovasi dan teknologi, Pertamina EP terus menjalankan transformasi operasi yang adaptif dan berkesinambungan. Penguatan kinerja produksi, eksplorasi, dan keuangan didukung dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta praktik Health, Safety, Security & Environment (HSSE) untuk mencapai efektivitas dan efisiensi operasional.


