Investor Asing Tetap Mengurangi Eksposur di Pasar Saham Indonesia
Jakarta (ANTARA) – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di posisi 5.692,15 pada penutupan perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, terus dipicu oleh respons pelaku pasar terhadap penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya suku bunga global. Hal ini juga diiringi dengan masifnya arus keluar dana asing (foreign outflow) serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
Reaksi Investor Asing dan Prospek IHSG
Reydi Octa, seorang pengamat pasar modal Indonesia, menjelaskan bahwa tekanan jual yang terus menerus akan saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi sorotan utama investor asing. Menurut Reydi, investor asing cenderung lebih memilih untuk mengurangi eksposur di pasar saham Indonesia akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah, kebijakan ekonomi, dan potensi investasi di pasar lain yang dianggap lebih menarik dan menguntungkan.
Reydi juga mengingatkan bahwa setiap penguatan IHSG cenderung dimanfaatkan untuk pengambilan keuntungan atau pengurangan risiko. Meskipun demikian, apabila terjadi stabilisasi nilai tukar rupiah dan arus keluar asing mulai berkurang, peluang untuk technical rebound tetap terbuka mengingat valuasi saham-saham unggulan yang semakin menarik (undervalued).
Proyeksi Pergerakan IHSG
Dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan melemah selama tekanan terhadap rupiah dan arus keluar asing belum mereda. Data terbaru menunjukkan IHSG melemah hingga 147,62 poin atau 2,53 persen ke posisi 5.692,15 dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.322.798 kali transaksi, dan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 25,25 miliar lembar senilai Rp21,08 triliun. Dari data tersebut, tercatat 111 saham naik, 588 saham turun, dan 109 stagnan.


