IHSG Turun 4 Persen, Pasar Cermati Tata Kelola dan Kredibilitas Kebijakan
Pasar saham Indonesia, diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), mengalami penurunan pada hari Rabu. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perhatian investor terhadap tata kelola dan kredibilitas kebijakan di Indonesia.
Kekhawatiran Investor
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, ada lima kekhawatiran utama yang dominan dalam sentimen investor. Hal-hal tersebut meliputi tata kelola dan kredibilitas kebijakan setelah outlook negatif dari Moody’s dan Fitch Rating, tekanan pada nilai tukar rupiah, menyusutnya kelas menengah sebagai konsumen domestik utama, arus keluar modal asing yang terus meningkat, dan peningkatan risiko dalam kepemimpinan dan komunikasi kebijakan di mata investor global.
Perbandingan dengan Pasar Lain
Perbandingan kinerja IHSG dengan pasar lainnya juga menjadi sorotan. Indonesia ETF (EIDO) mencatatkan return negatif sebesar 28,6 persen sejak awal 2025, sementara beberapa pasar lain seperti Vietnam, Taiwan, dan Amerika Serikat mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa investor global tengah mengurangi eksposur terhadap Indonesia.
Pelemahan IHSG semakin bertambah mencolok jika dibandingkan dengan beberapa bursa global yang berhasil mencatatkan rekor baru. Fokus investor saat ini beralih ke penilaian dari FTSE dan MSCI terhadap Indonesia dalam beberapa pekan mendatang.
Kredibilitas Pasar Modal Indonesia
Setelah penilaian dari Moody’s dan Fitch, FTSE dan MSCI dianggap sebagai ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia. Meskipun berbagai potensi risiko sudah mengemuka dalam enam bulan terakhir, Indonesia masih mempertahankan status investment grade, dan beberapa lembaga seperti S&P, MSCI, dan FTSE belum mengubah klasifikasi atau outlook terkait Indonesia.
Dalam jangka pendek, FTSE dan MSCI dianggap sebagai ujian terpenting selanjutnya, dimana pasar akan menilai risiko Indonesia secara lebih objektif.
Di sesi perdagangan hari itu, IHSG sempat dibuka menguat namun akhirnya melemah. Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.767.373 kali transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp25,25 triliun. Ada 69 saham yang mengalami kenaikan, 692 saham mengalami penurunan, dan 54 saham stagnan.
Dari sektor saham, barang baku mengalami penurunan terbesar, sementara sektor energi dan infrastruktur juga turun signifikan. Beberapa saham seperti WEHA, MMIX, OMRE, MSIN, dan CASA mengalami kenaikan harga, sedangkan TPIA, APIC, ARKO, GMTD, dan KJEN menjadi saham dengan penurunan harga terbesar.
Sementara itu, bursa saham regional Asia juga mengalami fluktuasi, dimana beberapa indeks menguat dan beberapa melemah.


