Pelaku pasar terus memperhatikan perkembangan di Timur Tengah karena gencatan senjata antara AS-Iran terlihat masih rapuh. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan bahwa rupiah akan tetap berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Ketegangan semakin meningkat setelah Iran kembali memblokir Selat Hormuz dan Israel terus melakukan operasi militer di Lebanon. Hal ini menyebabkan rupiah pada pagi Jumat menguat sedikit menjadi Rp17.083 per dolar AS.
Pelaku pasar tetap memantau perkembangan di Timur Tengah menghadapi gencatan senjata yang baru diumumkan AS-Iran yang masih rapuh, terutama menjelang perundingan damai di Pakistan. Perselisihan di Lebanon antara Israel dan Zionis juga menjadi sorotan utama. Perkembangan ini dapat memengaruhi negosiasi AS-Iran dan menyebabkan kenaikan harga minyak global serta memperkuat sentimen risk-off.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga memberikan sentimen tambahan, di mana sejumlah pejabat The Fed membuka pendekatan baru dalam menetapkan kebijakan suku bunga ke depan. Rencana kenaikan suku bunga masih menjadi opsi jika inflasi terus di atas target. Mayoritas anggota FOMC juga khawatir dengan risiko inflasi dan ketenagakerjaan yang tinggi, terutama yang berkaitan dengan situasi di Timur Tengah.
Dengan semua faktor ini, diprediksi bahwa rupiah akan berkisar antara Rp17 ribu hingga Rp17.125 per dolar AS. Situasi di Timur Tengah dan kebijakan The Fed menjadi dua faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.


