Pada hari Kamis, IHSG, atau Indeks Harga Saham Gabungan, di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan dengan nilai 28,38 poin atau 0,39 persen menjadi 7.307,59. Meskipun ada kekhawatiran tentang pelanggaran kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, IHSG mampu tetap menguat. Salah satu faktor yang memengaruhi pasar saham adalah pelemahan di Bursa Asia yang dipicu oleh ketidakpastian terkait gencatan senjata di Timur Tengah. Harga minyak dunia juga turut mempengaruhi pasar saham, dengan harga minyak jenis WTI dan Brent mengalami kenaikan.
Para ahli melihat adanya ketegangan di Timur Tengah terutama setelah serangan Israel ke Lebanon dan pemblokiran sebagian Selat Hormuz oleh Iran. Meskipun demikian, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan resmi pabrik mobil listrik sebagai bagian dari upaya mendukung hilirisasi di Indonesia. Beliau juga menegaskan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia aman selama setahun ke depan, mengurangi kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
IHSG sempat dibuka melemah pada periode pertama perdagangan saham, namun kemudian berhasil membalikkan tren menjadi menguat hingga penutupan perdagangan. Berdasarkan IDX-IC, sektor energi menjadi sektor yang menguat paling signifikan, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor infrastruktur. Di sisi lain, ada sektor-sektor yang mengalami koreksi seperti sektor industri, keuangan, dan barang konsumen primer.
Dalam perdagangan saham, saham-saham seperti PEGE, HDFA, ASPI, APIC, dan MSIN mengalami penguatan tertinggi, sementara saham-saham seperti TEBE, GSMF, GULA, LFLO, dan MEGA mengalami pelemahan. Meskipun demikian, frekuensi perdagangan saham tetap tinggi dengan 2.242.170 transaksi dan total saham yang diperdagangkan mencapai 29,04 miliar lembar senilai Rp16,97 triliun. Bursa saham di Asia juga mengalami penurunan, dengan indeks Nikkei, Shanghai, Kuala Lumpur, dan Strait Times turun pada sore hari itu.
Semua peristiwa tersebut tentu memiliki dampak pada pasar saham dan aktivitas perdagangan di Indonesia, menunjukkan keterkaitan antara geopolitik global dengan pergerakan IHSG. Akan tetapi, kemampuan IHSG untuk tetap bertahan dan menguat adalah sinyal positif bagi pasar keuangan di tengah ketidakpastian global.


