Thursday, October 8, 2026
HomeFinansialKalibrasi Intervensi Rupiah Berdasarkan Dampak Perang: 3 Skenario

Kalibrasi Intervensi Rupiah Berdasarkan Dampak Perang: 3 Skenario

Bank Indonesia (BI) telah mengoptimalkan tiga instrumen intervensi moneter dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa BI siap melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah berdasarkan respons terhadap tiga skenario dampak perang di Timur Tengah. Hal ini terjadi apabila harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah, dan tinggi.

Penyesuaian ini akan bergantung pada eskalasi perang Timur Tengah dan dampaknya terhadap berbagai aspek ekonomi global seperti harga minyak, pertumbuhan ekonomi, inflasi global, pergerakan dolar AS, aliran portofolio keluar dari emerging market, serta tingkat yield US Treasury. Perry menjelaskan bahwa upaya optimasi instrumen tersebut dilakukan selama Rapat Dewan Gubernur BI untuk mengevaluasi kemungkinan durasi, intensitas, dan dampak perang terhadap indikator ekonomi.

Dampak utama perang di Timur Tengah termasuk penekanan pertumbuhan ekonomi global dan peningkatan inflasi global. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi melambat menjadi 3,1 persen dari 3,2 persen, serta peningkatan inflasi global dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen, mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global. Selain itu, BI juga memperhatikan aliran modal portofolio yang keluar dari negara emerging market termasuk Indonesia, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan imbal hasil US Treasury pada suku bunga dan yield obligasi pemerintah di negara berkembang.

Pada pertemuan RDG Maret 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate, suku bunga deposit facility, dan lending facility masing-masing pada level 4,75 persen, 3,75 persen, dan 5,50 persen. Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak perang di Timur Tengah serta menjaga target inflasi 2026-2027. Tindakan ini mengindikasikan dipertahankannya BI-Rate sejak Oktober 2025 setelah sejumlah penurunan sepanjang tahun 2024 dan 2025. Selain itu, BI juga mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,37 persen dalam Februari 2026 dan insentif Kredit Likuiditas Moneter (KLM) pada pekan pertama Maret 2026 mencapai Rp427,1 triliun.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler