PT Pegadaian telah berhasil mengelola total 141 ton emas hingga tahun 2025 dari berbagai produk dan layanan perseroan, seperti deposito emas, pinjaman modal kerja emas, bullion trading, dan titipan emas. Jumlah emas yang dikelola tersebut akan menjadi modal penting dalam pengembangan ekosistem bank emas di Indonesia. Selain itu, tabungan emas masyarakat juga mencapai 19,2 ton dari sekitar 5,6 juta nasabah, menunjukkan minat yang terus meningkat terhadap instrumen investasi ini.
Untuk memperluas akses investasi emas, Pegadaian meluncurkan aplikasi digital Tring pada Oktober 2025, yang memungkinkan masyarakat menabung emas dengan nominal mulai dari Rp10.000. Hingga akhir tahun tersebut, aplikasi Tring telah digunakan oleh sekitar 4,8 juta pengguna dengan total transaksi mencapai 21,2 juta transaksi, termasuk transaksi emas sekitar 4,8 ton atau setara dengan 50 persen dari total penjualan emas Pegadaian.
Menghadapi tren peningkatan nasabah bank emas, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa nilai emas yang digadaikan di Pegadaian meningkat menjadi 144,7 ton dari 94 ton, serta peningkatan pinjaman sebesar 38,5 ton. Hal ini mencerminkan bahwa pembelian emas juga turut mempengaruhi inflasi, di mana harga emas naik dari 3.000 dolar AS per troy ounce pada saat peluncuran bank emas menjadi sekitar 5.000 dolar AS per troy ounce saat ini.
Untuk mendukung perkembangan ekosistem bank emas, Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan dua lembaga keuangan pertama yang memperoleh izin untuk menjalankan layanan tersebut. Dukungan juga datang dari pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) yang melibatkan 11 perusahaan di industri emas nasional, dengan target resmi terbentuk pada Juni 2026.
Dengan peningkatan minat masyarakat terhadap investasi emas dan perkembangan ekosistem bank emas di Indonesia, diperkirakan bahwa pasar emas akan terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi industri keuangan dan perekonomian nasional.


