Pasar keuangan mengalami gejolak, terutama setelah konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memunculkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Hal ini tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Jumat. IHSG turun 11,07 poin atau 0,14 persen menjadi 7.699,47, sedangkan indeks LQ45 turun 1,61 poin atau 0,20 persen ke posisi 786,21. Para analis memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga oleh The Fed akan sekitar 40 bps sepanjang tahun 2026, turun dari prediksi sebelumnya sekitar 50 bps sebelum konflik pecah. Eskalasi konflik antara Iran dengan AS dan Israel juga memunculkan kekhawatiran lebih lanjut terhadap inflasi energi dan kebijakan The Fed. Pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pada 17-18 Maret 2026 juga menjadi sorotan untuk menentukan kebijakan suku bunga acuan selanjutnya. Selain itu, perlambatan ekonomi China juga berpotensi menekan ekonomi Indonesia, melalui kemungkinan reduksi permintaan komoditas dan bahan baku dari Indonesia. Gejolak ini juga terasa di pasar saham global, seperti melemahnya bursa saham di Eropa dan AS. Meskipun demikian, indeks saham regional Asia mengalami keberagaman pergerakan, di mana indeks Nikkei dan Hang Seng menguat, sementara indeks Shanghai dan Strait Times mengalami penurunan.Ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang cukup signifikan di pasar keuangan global, mendorong investor untuk tetap waspada dalam mengantisipasi pergerakan ke depan.


