Pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah seiring meningkatnya ketegangan di pasar global. Perlambatan ekonomi tercermin dari penurunan 43,39 poin atau 0,55 persen IHSG ke posisi 7.896,38 dan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802,31. Situasi ini diprediksi akan memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global karena kenaikan harga minyak mentah di tingkat global. Konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel memicu peningkatan harga minyak Brent dan US WTI. Lonjakan harga minyak ini juga memicu kekhawatiran peningkatan inflasi global karena energi merupakan komponen kunci dalam biaya produksi dan transportasi. Sejumlah faktor seperti konflik geopolitik, penyumbatan Selat Hormuz, dan pertumbuhan global yang tertekan mempengaruhi pergerakan IHSG secara menyeluruh. Tidak hanya itu, pergolakan di Timur Tengah juga mempengaruhi sektor perdagangan global, termasuk energi dan logistik, serta penerbangan. Pemerintah AS bersiap untuk mengamankan jalur pelayaran dengan U.S. Development Finance Corporation dan Angkatan Laut AS. Di lingkup domestik, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus mempublikasikan informasi kepemilikan saham perusahaan terdaftar di atas 1 persen. Berbagai tindakan ini diharapkan memperkuat kepercayaan investor dan memantapkan pasar modal Indonesia.


