Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, dengan pelemahan sebesar 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.896 per dolar AS dari penutupan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian yang terus berlanjut di Timur Tengah, menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Meningkatnya ketegangan tanpa indikasi kompromi antara pihak-pihak yang terlibat telah membebani sentimen pasar dan meredam minat risiko investor.
Sebelumnya, kabar mengenai Iran mendekati AS untuk negosiasi perdamaian meningkatkan minat risiko investor, namun otoritas Iran membantah laporan tersebut. Sementara Fitch mengumumkan revisi prospek rating kedaulatan Indonesia menjadi negatif dari stabil, dengan peringkat tetap di BBB. Penurunan prospek ini mencerminkan kekhawatiran terhadap posisi fiskal domestik, terutama tekanan meningkatnya pengeluaran pemerintah tanpa pertumbuhan pendapatan yang sesuai.
Di sisi global, S&P Global US Services PMI turun menjadi 51,7 pada Februari 2026, di bawah ekspektasi pasar, sementara ISM Services Index naik menjadi 56,1, melampaui perkiraan konsensus. Data pasar tenaga kerja AS juga menunjukkan perbaikan kondisi dengan ADP Employment Change yang meningkat. Berdasarkan hal ini, rupiah diproyeksikan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.850–Rp16.975 pada sesi perdagangan hari ini.


