Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Rabu, melemah 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.892 per dolar AS dari penutupan sebelumnya. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar terhadap risiko pasokan di tengah konflik di Asia Barat, di mana Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran.
Pasukan Iran merespons dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global. Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak.
Selain itu, Iran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, dengan otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apapun yang melewati selat tersebut. Hal ini telah menyebabkan Irak menghentikan produksi minyak di ladang Rumaila dan West Qurna 2.
Di sisi domestik, Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meskipun demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing tetap di level BBB karena Indonesia dinilai memiliki rekam jejak yang baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah. Bank Indonesia (BI) juga mengisyaratkan pemantauan ketat terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi global untuk menjaga rupiah. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini juga melemah ke level Rp16.911 per dolar AS.
Secara keseluruhan, situasi geopolitik di Asia Barat dan sentimen pasar global mempengaruhi nilai tukar rupiah, dengan Indonesia perlu menjaga stabilitas ekonominya untuk menghadapi berbagai tantangan eksternal.


