Investor global cenderung mengalihkan sebagian dananya ke aset safe haven seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), dan obligasi pemerintah AS dalam mengantisipasi konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Data perdagangan sesi I menunjukkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,32 persen menjadi 7.596,58 poin, sejalan dengan pelemahan pasar saham Asia pada hari tersebut.
Reydi Octa, seorang Pengamat Pasar Modal, menyatakan bahwa ketika bursa Asia mengalami pelemahan, investor global seringkali beralih ke aset safe haven untuk menghindari risiko. Faktor eksternal dan aksi profit taking investor turut memengaruhi pelemahan IHSG, setelah sebelumnya mengalami kenaikan harga dalam periode pendek.
Pelaku pasar masih mempertimbangkan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian mengenai suku bunga global, yang menyebabkan sikap risk-off di banyak bursa Asia. Investor asing cenderung melakukan aksi jual, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Reydi memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi tetap volatil namun masih dapat bertahan di level support 7.600-7.500. Jika tekanan jual asing tidak agresif, pelemahan diperkirakan bersifat teknikal dan terbatas. Pada perdagangan Rabu, indeks saham regional Asia juga mengalami pelemahan signifikan.
Secara keseluruhan, kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal yang berdampak negatif. Investor cenderung mencari aset safe haven sebagai langkah antisipasi, sehingga volatilitas pasar tetap tinggi. Selain itu, upaya rebalancing portofolio global juga turut mempengaruhi pergerakan pasar saham.


