Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada awal perdagangan Jumat, dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap risiko global. Ketika perdagangan dibuka di Jakarta, rupiah turun 29 poin atau sekitar 0,17 persen menjadi Rp16.788 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.759 per dolar AS. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat dolar AS yang menguat setelah data manufaktur dan ketenagakerjaan AS yang keluar lebih baik dari perkiraan.
Perundingan antara AS dan Iran yang belum menghasilkan kesepakatan juga menjadi faktor pendukung pelemahan rupiah, memicu sentimen negatif di pasar keuangan dan menekan mata uang lain seperti rupiah. Meskipun demikian, dolar AS mengalami pergerakan yang bervariasi terhadap mata uang utama lainnya, dengan beberapa mata uang menguat dan melemah terhadap greenback. Bank Woori Saudara melihat potensi pelemahan rupiah hari ini di kisaran Rp16.730 hingga Rp16.790 per dolar AS, dipengaruhi oleh faktor global dan meningkatnya risiko geopolitik antara AS dan Iran yang membuat pasar melirik aset safe haven.
Meskipun kondisi global yang kurang mendukung, peran sentimen domestik juga minim dalam pergerakan rupiah saat ini. Dengan pergerakan mata uang yang cenderung stabil terhadap mayoritas mata uang lainnya, rupiah masih berada dalam tekanan yang signifikan terhadap dolar AS. Proyeksi pergerakan rupiah berada di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS, menurut analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong. Meskipun harapan rupiah menguat tidak begitu besar, namun analis memperkirakan potensi pelemahan dalam rentang tersebut.


