Pada survei Affluent Investor Snapshot 2025 yang dilakukan oleh HSBC, para investor segmen kelas atas di Indonesia ternyata menempati posisi teratas dalam kepemilikan emas jika dibandingkan dengan 11 negara lainnya. Rata-rata alokasi emas dalam portofolio investor affluent di Indonesia mencapai sekitar 25 persen, mengalami lonjakan sebesar 12 poin persentase dari tahun sebelumnya. Sementara itu, kepemilikan uang tunai menurun menjadi 19 persen dari portofolio.
Sumirat Gandapraja, selaku Head of Networks Sales and Distribution HSBC Indonesia, menjelaskan bahwa negara-negara lain yang disurvei juga mengalami penurunan kepemilikan uang tunai. Namun, investor affluent di Indonesia cenderung lebih memilih alokasi investasi di emas serta aset lainnya seperti saham.
Meskipun begitu, portofolio investor affluent Indonesia tetap terdiversifikasi di berbagai aset, termasuk properti, obligasi, dan saham. Menurut Sumirat, investor Indonesia cenderung langsung beralih ke emas sebagai pilihan investasi saat memiliki kelebihan dana, jauh lebih dari obligasi atau saham.
Survei HSBC juga menunjukkan bahwa minat terhadap produk unit link dan solusi keuangan terkelola cukup tinggi di kalangan investor affluent Indonesia. Selain itu, generasi muda seperti Gen Z dan milenial menunjukkan minat yang besar terhadap produk-produk keuangan baru dan lebih kompleks, menandakan adanya risiko dan inovasi yang lebih tinggi.
Meskipun mayoritas responden mengkhawatirkan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, kalangan affluent Indonesia tetap optimis. Keyakinan dalam mencapai tujuan keuangan juga tinggi di semua kelompok umur, dengan Gen Z dan milenial menunjukkan kepercayaan tertinggi. Data dari survei HSBC juga menunjukkan bahwa individu affluent Indonesia membutuhkan rata-rata 565 ribu dolar AS untuk masa pensiun yang nyaman dan aman, yang mengalami peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.
Generasi muda lebih berfokus pada dukungan finansial terhadap keluarga, membangun kekayaan, dan persiapan pensiun, sementara Gen X dan Baby Boomer lebih memprioritaskan tabungan untuk rekreasi serta menjaga kekayaan yang dimiliki. Survei dilakukan daring pada Maret 2025 dan melibatkan 10.797 investor affluent di 12 negara, termasuk 547 responden dari Indonesia. Interes terhadap pasar global dan aset berisiko terus menjadi sorotan dalam dunia investasi.


