Di Indonesia, sosok Yesus Kristus sering disebut dengan nama Isa Al-Masih dalam konteks keagamaan. Nama ini lebih akrab di kalangan Muslim dan dikenal sebagai salah satu nabi penting dalam tradisi Islam. Perbedaan dalam penyebutan nama ini mencerminkan perjalanan sejarah panjang interaksi budaya dan agama di Timur Tengah hingga Asia Tenggara.
Asal usul nama “Isa Al-Masih” berasal dari kata “Yesus” yang dalam bahasa Ibrani berarti “Tuhan adalah keselamatan”. Namun, dalam tradisi Islam, digunakan nama “Isa” untuk merujuk pada Yesus. Dalam Al Quran, dia disebut sebagai “Isa bin Maryam” atau Isa putra Maryam tanpa menyebut ayah biologisnya. Gelar “Al-Masih” yang berarti “Yang Diurapi” juga diberikan padanya, sepadan dengan kata “Kristus” dalam tradisi Kristen.
Di Indonesia, penggunaan nama “Isa Al-Masih” dimulai sejak masa penjajahan Belanda. Misionaris Belanda yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu memilih menggunakan nama ini agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat Muslim setempat. Penggunaan ini dapat ditemukan dalam terjemahan Alkitab berbahasa Melayu pada tahun 1901.
Pada tahun 2024, pemerintah Indonesia mengubah nomenklatur hari libur nasional dari “Kenaikan Isa Al-Masih” menjadi “Kenaikan Yesus Kristus” atas usulan umat Kristen dan Katolik. Meskipun nama-nama ini merujuk pada sosok yang sama, perbedaan ini mencerminkan latar belakang budaya, linguistik, dan keyakinan agama yang berbeda. Adapun penggunaan istilah berbeda ini juga mencerminkan upaya menjembatani pemahaman antara komunitas Muslim dan Kristen di Indonesia.


