Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan bertemu dengan INPEX Masela, operator Proyek LNG Abadi, untuk membahas percepatan proyek LNG Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Pertemuan tersebut direncanakan dilakukan pada bulan depan (Juni) untuk memastikan proyek produksi segera dimulai. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk mendukung percepatan pengembangan Blok Masela.
Konsorsium INPEX telah memulai Front End Engineering and Design (FEED) di Blok Masela untuk identifikasi kebutuhan dan tantangan proyek. Meskipun target produksi pertama direncanakan pada tahun 2030, pemerintah berharap INPEX dapat mempercepat proses tersebut untuk memulai produksi pada kuartal II 2029. Hingga saat ini, belum ada pembicaraan mengenai penggantian INPEX dalam mengelola Blok Masela, namun pemerintah masih mendorong INPEX untuk tetap terlibat dan menunggu proses selanjutnya.
Menteri ESDM sebelumnya telah memberikan surat teguran kepada INPEX terkait pengelolaan Blok Masela dan mengancam akan mencabut kontrak jika terjadi kelambatan. Kontrak kerja sama WK Masela berakhir pada 15 November 2055 dan saat ini dimiliki oleh INPEX Masela Ltd (65 persen), PT Pertamina Hulu Energi Masela (20 persen), dan Petronas Masela Sdn. Bhd (15 persen). Proyek ini merupakan Proyek Strategis Nasional Indonesia dengan kapasitas produksi LNG, gas pipa, dan kondensat yang diharapkan mencapai target operasional pada kuartal IV-2029.
Artikel ini menggambarkan komitmen pemerintah dan perusahaan terkait percepatan proyek LNG Blok Masela di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Menteri ESDM dan INPEX Masela diharapkan dapat bekerja sama untuk memajukan proyek ini sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan untuk mengoptimalkan potensi energi Indonesia dalam jangka panjang.


