Analisis terkait kekhawatiran retaliasi negara-negara terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) semakin mendukung penguatan nilai tukar rupiah. Kekhawatiran ini dipicu oleh rencana negara-negara seperti Kanada, Uni Eropa, dan China untuk memberlakukan langkah balasan atas kebijakan tarif Trump yang diumumkan baru-baru ini. Kanada, misalnya, akan melawan tarif AS dan membangun ekonomi terkuat di G7.
Tarif yang akan diberlakukan terhadap berbagai komoditas memicu respon negatif dari negara-negara tersebut. Meskipun Kanada dan Meksiko berhasil menghindari tarif terburuk, dampak dari kebijakan tersebut tetap bisa dirasakan. Uni Eropa juga sedang menyiapkan langkah balasan terhadap tarif 20 persen yang akan diberlakukan AS terhadap barang-barang asal Eropa.
Sementara itu, China juga menolak keras kebijakan tarif yang diumumkan oleh Trump. China berjanji akan mengambil tindakan balasan tegas untuk melindungi kepentingan dan haknya. Karena adanya kekhawatiran retaliasi ini, kurs rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS, dengan perkiraan kisaran antara Rp16.600-Rp16.800 per dolar AS.
Selain faktor retaliasi, dolar AS juga tertekan oleh data Institute for Supply Management (ISM) jasa yang lebih lemah dari perkiraan. Hal ini mencerminkan kekhawatiran terhadap ekonomi AS ke depan akibat kebijakan Trump. Meskipun demikian, sentimen risk off di pasar ekuitas diperkirakan akan membatasi penguatan dolar AS.
Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, pemerintah Indonesia diharapkan bisa menegosiasi dan memantau perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan tarif Trump. Meskipun demikian, Indonesia tidak diperkirakan akan melakukan tindakan balasan karena ekonomi dalam negeri dinilai belum cukup besar dan kuat. Selain itu, pengaruh data ekonomi dan kebijakan Trump terhadap kurs rupiah juga menjadi perhatian bagi pelaku pasar.








