Rupiah diperkirakan akan melemah kembali hari ini karena kekhawatiran akan tarif Trump dan eskalasi perang dagang setelah ancaman Trump untuk meningkatkan tarif Kanada dua kali lipat. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terkait eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Kanada. Trump telah meningkatkan tarif dua kali lipat dari 25 persen menjadi 50 persen atas baja dan aluminium, yang kemudian direspons oleh Ottawa dengan menerapkan pajak 25 persen pada ekspor listrik ke AS. Selain itu, sentimen negatif terhadap rupiah juga berasal dari proyeksi Goldman Sachs Group Inc. mengenai defisit APBN Indonesia yang semakin melebar.
Goldman Sachs telah menurunkan peringkat obligasi negara tenor 10 dan 20 tahun menjadi neutral, serta merendahkan peringkat saham Indonesia dari overweight menjadi market weight. Analis Goldman Sachs mengkhawatirkan kondisi ekonomi setelah Presiden Prabowo mengumumkan serangkaian langkah pemerintah yang dapat memperburuk defisit. Penurunan rating obligasi diperkirakan akan menekan rupiah dengan kenaikan imbal hasil obligasi. Saat pembukaan perdagangan hari Rabu di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah hingga 34 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.443 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.409 per dolar AS. M Baqir Idrus Alatas menjadi pewarta dari artikel ini yang diedit oleh Faisal Yunianto. Copyright © ANTARA 2025.


