Tawar-menawar kesepakatan damai Gaza memasuki fase kritis setelah berakhirnya fase pertama pada Sabtu. Kekhawatiran meningkat atas keberlanjutan perdamaian yang rapuh, berpotensi berdampak pada lebih dari 2 juta warga Gaza yang tinggal di kantong pantai terkepung. Masa depan mereka masih tertunda karena belum ada usulan yang diterima luas terkait tata kelola pascaperang dan rekonstruksi. Meskipun kondisi tidak stabil, banyak warga Gaza tetap bersikeras untuk tinggal di sana meski risiko pengungsian, kehancuran, dan ketidakpastian terus mengintai.
Negosiasi untuk fase kedua kesepakatan damai Gaza masih mandek setelah Israel mengusulkan perpanjangan fase pertama gencatan senjata selama 42 hari. Namun, negosiasi belum membahas langkah konkret dalam mengakhiri perang di Gaza dan penarikan Israel dari Jalur Gaza. Respons dari Hamas menolak usulan perpanjangan tersebut, menekankan perlunya pemenuhan komitmen kesepakatan oleh pihak-pihak terkait.
Israel menerima usulan AS untuk gencatan senjata sementara selama Ramadan dan liburan Paskah Yahudi, namun tetap siap bertindak jika negosiasi tidak efektif. Institusi Israel menyoroti bahwa tujuan awal perang belum tercapai sepenuhnya, dan Israel masih memiliki pertimbangan yang kompleks terkait lanjutan negosiasi. Tekanan dari anggota Kabinet sayap kanan ekstrim juga membuat pemerintah berhati-hati dalam melanjutkan perundingan.
Kesepakatan damai Gaza masih menyisakan sejumlah tantangan dan ketidakpastian, mengingat kondisi politik dan keamanan yang terus berubah di wilayah tersebut. Masa depan Gaza dan nasib penduduknya masih diambang ketidakpastian, sementara negosiasi untuk fase kedua terus berlangsung. Semua pihak berharap agar kesepakatan akhirnya dapat menciptakan kondisi yang lebih stabil dan aman bagi warga Gaza.







