Perselisihan terkait solusi untuk Gaza terus berlanjut, terutama setelah usulan Presiden AS Donald Trump untuk relokasi penduduk Palestina di Gaza ke negara-negara tetangga. Meskipun proposal tersebut menimbulkan protes di tingkat regional dan internasional, Institut Kebijakan Luar Negeri Regional Israel menyebutnya sebagai ide kacau. Publik Amerika Serikat diperkirakan akan menentang langkah tersebut, karena AS cenderung enggan terlibat dalam konflik luar negeri.
Usulan dari pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, yang menginginkan Mesir mengambil alih pemerintahan Gaza selama delapan tahun juga menimbulkan kontroversi. Mesir menolak tegas usulan tersebut, menyebutnya sebagai solusi yang hanya akan memperpanjang konflik. Sejumlah warga Gaza, termasuk Sajida Ayesh, menolak keras ide untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka meskipun mengalami kesulitan.
Perkiraan dari PBB menunjukkan lebih dari 565.000 orang telah mengungsi dari Gaza selatan ke Gaza utara sejak Januari. Namun, ketika mereka pulang, mereka menemukan banyak kehancuran di daerah asal mereka. Hanya sekitar seperempat dari pasokan air dan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan telah tercukupi, sementara ribuan orang, termasuk anak-anak, membutuhkan evakuasi medis.
Badai musim dingin berdampak buruk pada warga Palestina yang terdampak konflik di Gaza, banyak yang masih membutuhkan bantuan mendesak. Om Ahmed al-Ramli di Gaza tengah harus berjuang keras untuk menyelamatkan barang-barangnya setelah badai merusak tempat tinggalnya. Dalam situasi ini, bantuan yang lebih besar dan solusi yang lebih berkelanjutan dibutuhkan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Gaza.







