Thursday, October 8, 2026
HomeSepakbolaSuporter PSIM dan PSS Berdamai, Ini Sejarah Perseteruannya

Suporter PSIM dan PSS Berdamai, Ini Sejarah Perseteruannya

Rivalitas PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman akan kembali diuji ketika kedua klub bertemu dalam Derbi Mataram pada BRI Super League 2026/2027. Menjelang laga tersebut, empat kelompok suporter dari kedua kubu menandatangani kesepakatan untuk menjaga keamanan dan keharmonisan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kesepakatan itu dibuat di Mapolda DIY, Rabu (16/9), dengan melibatkan Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) sebagai pendukung PSS, serta Brajamusti dan Mataram Independent atau The Maident dari kubu PSIM. Penandatanganan disaksikan manajemen kedua klub, Match Organizing Committee (MOC), Wali Kota Yogyakarta, Bupati Sleman, Asprov PSSI DIY, dan jajaran Polda DIY.

Para suporter berkomitmen menjaga keamanan pertandingan, menghindari provokasi, serta menolak tindakan anarkis di dalam dan luar stadion. Komitmen itu juga mencakup ketertiban lalu lintas saat menuju dan meninggalkan stadion, larangan membawa barang berbahaya, serta imbauan untuk tidak menyebarkan narasi negatif di media sosial.

Rivalitas yang berakar sejak awal 2000-an

PSIM bermarkas di Kota Yogyakarta, sedangkan PSS berasal dari Kabupaten Sleman. Pertemuan dua klub dari wilayah yang berdekatan itu dikenal sebagai Derbi Mataram, sebuah nama yang merujuk pada keterkaitan sejarah kawasan Mataram dengan Yogyakarta dan sekitarnya.

Persaingan tersebut mendapat perhatian lebih besar setelah PSS promosi ke kasta teratas pada musim 1999/2000, ketika PSIM justru turun ke kasta kedua. Seiring waktu, kompetisi antarklub berkembang menjadi rivalitas di antara basis pendukung masing-masing. PSIM memiliki Brajamusti dan The Maident, sementara PSS didukung Slemania dan BCS.

Penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai konflik Slemania dan Brajamusti mencatat, perselisihan kedua kelompok telah berlangsung sejak sekitar 2000. Atribut klub dan fanatisme disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memicu gesekan dalam sejumlah periode kompetisi.

Rivalitas itu pernah menimbulkan korban jiwa. Pada 22 Mei 2016, bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia. Insiden lain terjadi pada 26 Juli 2018. Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan yang berkaitan dengan laga Derbi Mataram.

Upaya menjaga laga tetap dalam koridor olahraga

Upaya meredakan ketegangan telah dilakukan sebelumnya. Pada April 2018, Polda DIY mempertemukan perwakilan Brajamusti, The Maident, Slemania, dan BCS dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Mereka saat itu diajak membuat ikrar bersama untuk menjaga keamanan pertandingan.

Dalam kesepakatan terbaru, suporter juga menyatakan tidak akan melakukan perusakan, penganiayaan, pembakaran, penghadangan, atau tindakan melanggar hukum terhadap pemain maupun pendukung lawan. Klub dan suporter bahkan siap menerima pengalihan lokasi pertandingan apabila situasi keamanan dinilai tidak memungkinkan.

Perwakilan suporter PSIM, Rendi Agung, menyatakan pihaknya akan menjaga kondisi kelompok pendukung hingga tingkat akar rumput. Sementara itu, perwakilan Slemania, Tato Indarto, menilai komitmen tersebut diperlukan untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta.

Derbi Mataram kembali digelar di kasta tertinggi

Berdasarkan jadwal resmi BRI Super League 2026/2027, pertemuan pertama PSIM dan PSS musim ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Desember 2026. PSIM akan bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Laga tersebut menandai kembalinya PSS ke kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship. PSIM sendiri menjalani musim kedua di level tertinggi setelah promosi. Namun, kehadiran penonton masih menunggu evaluasi keamanan dari Polda DIY berdasarkan analisis dan perkembangan situasi menjelang pertandingan.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler