Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Didorong oleh Manufaktur dan Konsumsi Rumah Tangga
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen (yoy) pada triwulan II 2026. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh industri manufaktur atau pengolahan dari sisi lapangan usaha, serta konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran.
Peranan Industri Manufaktur
Menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud, industri manufaktur menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan pertumbuhan sebesar 0,90 persen. Sektor ini tumbuh 4,52 persen (yoy) dan berkontribusi 18,50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain manufaktur, sektor perdagangan, konstruksi, dan informasi dan komunikasi juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026. Peran kontribusi dari sektor-sektor tersebut memperkuat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Konsumsi Rumah Tangga
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 2,67 persen memberikan kontribusi besar terhadap struktur PDB Indonesia, dengan pangsa mencapai 53,32 persen.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan konsumsi pemerintah juga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, net ekspor mengalami pertumbuhan negatif sebesar 0,78 persen.
Sebagai tambahan informasi, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan tumbuh 3,0 persen pada tahun 2026. Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), ekonomi negara berkembang diperkirakan tumbuh 3,8 persen, angka ini masih lebih tinggi daripada proyeksi global.
Di samping itu, ekonomi negara mitra dagang utama Indonesia, seperti Vietnam, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Tiongkok, juga menunjukkan perkembangan yang beragam. Meskipun, sebagian besar mitra dagang utama Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif.


