Kemenperin Tekankan Pentingnya Industri Fesyen dan Kriya dalam Penguatan Perekonomian Nasional
Badung, Bali – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa sektor fesyen dan kriya memiliki peran strategis dalam memperkuat pemerataan ekonomi nasional melalui pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) yang berdaya saing.
Prestasi Sektor Fesyen dan Kriya
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa pada triwulan I tahun 2026, PDB industri fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun, mengalami kenaikan 7,89 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga melampaui angka pertumbuhan tahun 2024 dan 2025.
Kinerja positif industri fesyen dan kriya juga tercermin dari peningkatan investasi yang signifikan. Investasi dalam negeri dan asing di sektor ini meningkat secara signifikan, total investasi mencapai Rp14,21 triliun.
Kontribusi terhadap Ekspor dan Pemerataan Ekonomi
Selain itu, capaian ekspor industri fesyen dan kriya nasional juga menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada awal tahun 2026 mencapai angka yang mengesankan, memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Industri kecil dan menengah dalam sektor fesyen dan kriya juga menjadi tulang punggung dalam pemerataan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional. Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat jumlah unit usaha industri fesyen dan kriya dalam skala IKM serta jumlah tenaga kerja yang terserap, menjadikan sektor ini sangat vital dalam mendukung industri nasional.
Upaya pemerintah dalam memperkuat sektor fesyen dan kriya melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam menciptakan pemerataan ekonomi berbasis industri kreatif di berbagai daerah.
Melalui penguatan sektor fesyen dan kriya, diharapkan dapat membuka peluang baru dalam peningkatan kualitas produk lokal, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.


