Jawa Barat Alami Deflasi 0,07 Persen pada Bulan April 2026
Pada bulan April 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya deflasi sebesar 0,07 persen di Jawa Barat. Hal ini terjadi setelah normalisasi harga pangan dan tarif transportasi pasca-Lebaran. Data tersebut diungkapkan oleh Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, di Bandung.
Tren Penurunan Harga
Menurut Ari, penurunan harga ini merupakan kebalikan dari bulan sebelumnya, Maret 2026, yang mengalami inflasi sebesar 0,52 persen. Secara tahunan, tingkat inflasi mencapai 2,49 persen, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,17 persen. Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit, serta tarif angkutan antar kota.
Faktor Kontributor Deflasi
Ari juga menyebutkan bahwa faktor eksternal, seperti penurunan harga emas dunia, turut berkontribusi dalam deflasi Jawa Barat. Data menunjukkan bahwa dari 10 kabupaten/kota yang dipantau, sembilan daerah mengalami deflasi. Kabupaten Subang menjadi wilayah dengan deflasi terdalam, sementara Kota Sukabumi satu-satunya yang masih mengalami inflasi.
Meskipun terjadi deflasi secara bulanan, sejumlah komoditas masih memberikan andil inflasi signifikan secara tahunan. Emas perhiasan menjadi penyumbang tertinggi, diikuti oleh daging ayam ras, beras, minyak goreng, dan bahan bakar rumah tangga.


