Saturday, June 13, 2026
HomeFinansialOJK: Pentingnya Ekosistem Keuangan Berkelanjutan

OJK: Pentingnya Ekosistem Keuangan Berkelanjutan

OJK: Ekosistem Keuangan Berkelanjutan Menjadi Urgensi

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa ekosistem keuangan berkelanjutan tidak lagi hanya merupakan tuntutan aturan, tetapi suatu kebutuhan mendesak bagi industri keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi. Direktur Keuangan Berkelanjutan OJK, R. Joko Siswanto, menyatakan bahwa regulasi seperti Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) dan Panduan CRMS (Climate Risk Management and Scenario Analysis) dirancang untuk mengubah paradigma pelaku industri keuangan.

Menurut Joko, pasar dan masyarakat akan memberikan apresiasi atau ‘hukuman’ terhadap pelaku usaha berdasarkan praktik berkelanjutan yang dijalankan. Hal ini disampaikan dalam diskusi bertajuk “Finance for Future: Giving the Green Shift a Lift” yang diadakan di Jakarta.

Partisipasi Aktif Diperlukan dalam Pengembangan Keuangan Berkelanjutan

Deputi Komisioner OJK, Deden Firman Hendarsyah, menekankan pentingnya partisipasi dari berbagai pihak dalam pengembangan keuangan berkelanjutan. Baik melalui investasi hijau maupun advokasi kebijakan, semua pihak perlu terlibat aktif. Deden juga menyoroti bahwa perubahan iklim bukan hanya risiko lingkungan, tetapi juga berdampak pada risiko ekonomi dan keuangan yang dapat mengancam stabilitas.

Transisi menuju keuangan berkelanjutan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi merupakan upaya kolektif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Bagi industri keuangan, transisi ke arah yang lebih berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan suatu keharusan.

Mitigasi Risiko Iklim Perlu Dilakukan Secara Hati-Hati

Deden menyampaikan bahwa langkah-langkah untuk memitigasi risiko iklim harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Menurutnya, memilih untuk tidak bertransisi ke keuangan berkelanjutan justru akan meningkatkan risiko jangka panjang yang sulit untuk dikendalikan.

Ia juga mengingatkan bahwa industri keuangan harus memahami bahwa stagnasi dalam proses transisi juga membawa risiko yang dapat lebih besar dibandingkan dengan risiko yang muncul selama proses perubahan itu sendiri.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler