Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Triwulan Pertama 2026
Menyusul proyeksi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan pertama 2026 diperkirakan mencapai 5,48 persen (yoy).
Proyeksi Pertumbuhan dan Faktor Penggerak Ekonomi
Prediksi pertumbuhan tersebut berada dalam rentang estimasi 5,46 hingga 5,5 persen. Jahen F. Rezki, peneliti LPEM UI, menyoroti bahwa inflasi mengalami kenaikan yang signifikan di kuartal pertama 2026, melebihi target Bank Indonesia sebesar 3,47 persen (yoy) pada bulan Maret. Lonjakan inflasi ini didorong terutama oleh efek basis rendah dari subsidi tarif listrik.
Di sisi lain, investasi yang tumbuh sebesar 7,2 persen (yoy) dengan capaian Rp498,7 triliun pada triwulan pertama 2026 turut mendukung pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih surplus selama 70 bulan berturut-turut hingga Februari 2026.
Faktor-Faktor Pendukung Pertumbuhan Ekonomi
Selain itu, faktor musiman seperti Ramadhan dan Idul Fitri juga diidentifikasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pencairan tunjangan hari raya (THR) diyakini akan meningkatkan pendapatan bersih masyarakat. Kombinasi dari berbagai faktor ini, ditambah dengan efek basis rendah dari tahun sebelumnya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tinggi pada triwulan pertama 2026.
Namun, ditekankan pula bahwa untuk jangka menengah, perlu dilakukan langkah hati-hati dalam merespons perubahan kondisi ekonomi global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2026 diprediksi sebesar 5,15 persen, dengan kisaran antara 5,1 hingga 5,2 persen.
LPEM UI juga menekankan pentingnya pengelolaan belanja yang lebih produktif, dukungan pada sektor keuangan untuk menjaga ekspansi kredit tanpa mengorbankan kualitas aset, dan keberlangsungan daya beli masyarakat di tengah volatilitas harga energi global. Tanpa perbaikan pada sektor-sektor tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko stagnan di bawah 5 persen.


