Pemerintah Perlu Maksimalkan Momentum Krisis Energi dengan Investasi di Sektor Energi
Pemerintah Indonesia disarankan untuk memanfaatkan momentum krisis energi global akibat konflik di Selat Hormuz, terutama pasca-perang Iran, untuk mempercepat pembangunan infrastruktur penunjang distribusi energi ke masyarakat. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti perlunya Badan Pengelola Investasi Danantara untuk mendukung investasi di sektor energi, khususnya energi terbarukan, guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Momentum Krisis Energi dan Investasi Di Sektor Energi
Brief Report: Quarterly Economic Review Q1-2026 yang dirilis oleh CORE menegaskan urgensi pemanfaatan lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik. Salah satu rekomendasi dari laporan tersebut adalah percepatan pembangunan jaringan gas (jargas) rumah tangga sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor LPG. Hingga saat ini, baru sekitar 900 ribu rumah tangga yang terkoneksi dengan jargas.
Indonesia memiliki potensi besar di sektor hulu energi, namun pengembangan sektor hilir perlu diperkuat. CORE menekankan pentingnya percepatan investasi di sisi hilir untuk memastikan ketahanan energi domestik. Di samping itu, investasi di energi terbarukan, seperti PLTS, juga perlu didorong dengan berbagai kebijakan yang mendukung.
Dampak Konflik dan Kebijakan Energi
Perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah membawa dampak signifikan terhadap harga minyak dunia. Harga minyak mencapai 112 dolar AS per barel pada kuartal I-2026, melebihi asumsi dalam APBN yang hanya sebesar 70 dolar AS per barel. Hal ini memberikan tekanan fiskal pada pemerintah, terutama terkait dengan belanja subsidi energi.
Kementerian Keuangan mencatat bahwa belanja subsidi dan kompensasi energi hingga Februari 2026 naik hingga 382,6 persen secara tahunan. Tekanan eksternal juga terasa melalui penurunan cadangan devisa, capital outflow, dan kenaikan imbal hasil SBN. CORE memperkirakan bahwa defisit APBN dapat melebar jika harga minyak tetap tinggi pada level 100-112 dolar AS per barel.
Maka dari itu, langkah-langkah strategis perlu segera diimplementasikan untuk memperkuat sektor energi Indonesia di tengah krisis energi global yang sedang terjadi.


