Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sedang fokus untuk mempercepat penggunaan kemasan nonplastik sebagai solusi alternatif dalam industri. Dalam konteks global, tekanan konflik di Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok bahan baku dan pasokan plastik. Hal ini menimbulkan dampak luas mulai dari produsen hingga konsumen akibat terganggunya distribusi bahan baku plastik, seperti nafta.
Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Indonesia, menekankan pentingnya menjaga ketersediaan plastik dari pelaku industri untuk memastikan kelangsungan produksi. Lotte Chemical Indonesia, sebagai produsen petrokimia dalam negeri, memprioritaskan pasar domestik sebagai langkah strategis untuk menjaga ketersediaan bahan baku plastik.
Industri makanan dan minuman pun turut mengungkapkan kebutuhan akan kemasan plastik yang cukup, tidak hanya sebagai pelengkap tapi juga sebagai faktor kunci dalam menjaga kualitas produk dan distribusi. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menegaskan pentingnya stabilitas pasokan bahan baku untuk menjaga kelancaran produksi dan distribusi pangan. Dalam situasi seperti ini, upaya menjaga ketersediaan bahan baku plastik di semua tingkatan industri menjadi kunci untuk mencegah gangguan harga dan ketersediaan produk di pasaran.


