Sunday, May 17, 2026
HomeLainnyaAIHII Jabodetabek Bangun Diskusi Kritis soal Geopolitik Dunia

AIHII Jabodetabek Bangun Diskusi Kritis soal Geopolitik Dunia

Isu mengenai kemungkinan terjadinya perang dunia terus menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai kalangan, mulai dari konten yang ramai di media sosial hingga percakapan informal sehari-hari. Fenomena kekhawatiran tersebut menarik perhatian Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek yang kemudian menyelenggarakan IR Youth Talks#1 sebagai ruang diskusi untuk menelaah fenomena tersebut.

Bertempat di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026, forum ini menghadirkan dialog terbuka yang membahas perkembangan geopolitik global dan pentingnya posisi Indonesia di tengah dinamika tersebut.

Pada forum bertajuk “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global” ini, Anggy Pasaribu—jurnalis serta pendiri “Story of Anggy” sekaligus alumnus Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan—menjadi salah satu pemantik diskusi.

Ia mengangkat pertanyaan kunci yang sering beredar di masyarakat, yaitu seberapa relevan sebenarnya ketakutan akan pecahnya perang dunia dalam waktu dekat. Alih-alih terburu-buru dalam mengambil sikap, Anggy mengajak para peserta untuk lebih dulu memahami kompleksitas situasi global dengan sudut pandang dan pemahaman yang mendalam.

Menanggapi kegelisahan tersebut, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso selaku Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI menegaskan perlunya generasi muda lebih fokus pada penguatan kesiapan nasional daripada sekadar larut dalam spekulasi soal perang dunia. Menurut Aloysius, Indonesia mesti selalu siaga menghadapi berbagai tantangan global yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Ia menyampaikan, “Yang terpenting bukan meramal hadirnya perang, melainkan memastikan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan segala bentuk perubahan.” Menurut pemaparan dari Lemhannas, upaya pemetaan ancaman dilakukan melalui metode penilaian net assessment dan skenario, agar negara memiliki gambaran komprehensif tentang kerentanan yang ada.

Kajian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi beberapa kelemahan strategis, seperti ketergantungan pada impor energi dan pangan, sekaligus posisi geografis Indonesia yang sangat strategis di tengah persaingan negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik.

Konsekuensi dari posisi ini adalah ketika terjadi pergolakan dunia, dampaknya dapat langsung dirasakan di dalam negeri, mulai dari masalah ekonomi seperti gejolak harga bahan bakar, hingga sisi keamanan dan stabilitas nasional.

Di samping itu, Aloysius menekankan kembali bahwa Pancasila merupakan fondasi utama yang menjaga ketahanan bangsa. “Bangsa dengan pondasi ideologi kokoh tidak mudah digoyang oleh tekanan global,” tegasnya dalam forum.

Sementara itu, Broto Wardoyo sebagai Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, mengingatkan agar para peserta memandang isu global tidak secara reaktif, melainkan dengan sikap ilmiah dan kritis. Ia menilai, fenomena krisis yang terjadi saat ini lebih baik dianalisis sebagai bagian dari perubahan sistem internasional secara keseluruhan, dan bukan sekadar pertanda perang dunia.

Ia mengatakan, “Beragam krisis yang kita hadapi merupakan bagian dari proses transformasi yang saling berkaitan dan belum tentu mengarah pada perang dalam skala global.” Broto juga menyinggung adanya tantangan dari faktor-faktor eksternal, seperti kebijakan luar negeri yang tidak stabil, contoh paling nyata ialah pengaruh Donald Trump dalam menciptakan ketidakpastian baru di kancah dunia.

Sebagai langkah mitigasi, Broto mengenalkan konsep resilience-based hedging, yakni strategi yang menekankan adaptasi fleksibel dan penguatan kapasitas dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia dapat tetap kokoh walau berbagai tantangan dan krisis datang silih berganti.

IR Youth Talks digagas sebagai titik temu lintas generasi dan profesi—mulai dari akademisi, pembuat kebijakan, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi—melalui kolaborasi enam universitas anggota AIHII Jabodetabek yang terdiri atas Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Dalam sambutannya, Jeanne Francoise dari President University menekankan pentingnya anak muda dari beragam kampus untuk terlibat dan memahami persoalan hubungan internasional secara langsung, karena isu-isu global kini berdampak nyata hingga ke level masyarakat.

Kegiatan ini membuktikan bahwa diskusi politik dunia tidak hanya menjadi konsumsi segelintir elite, melainkan sebuah keniscayaan yang perlu direspon generasi muda dengan pengetahuan dan semangat partisipasi.

Mendekati penutupan forum, Anggy Pasaribu kembali mengajak seluruh peserta untuk menjaga iklim diskusi publik yang konstruktif dan proporsional. Ia menegaskan bahwa kritik adalah bagian penting dari pertumbuhan demokrasi, asal disampaikan secara bijak dan dalam forum yang sesuai.

Ia pun memberikan penekanan bahwa kontribusi generasi muda dalam ranah publik dapat dimulai dengan pemahaman yang matang dan penyampaian solusi secara positif dan membangun, bukan semata reaksi emosional.

“Menghadapi dunia yang tidak pasti memang menuntut kesiapsiagaan, namun yang lebih utama adalah penguatan pemahaman dan kesadaran, agar setiap respons yang kita berikan bukan didasari ketakutan, melainkan sikap visioner menghadapi masa depan,” pungkas Anggy sebagai penutup acara.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

RELATED ARTICLES

Terpopuler